Kaidah Ilmu dan Amal
Imam Bukhari rahimahullah menyusun suatu bab di dalam Shahihnya pada kitab Al-Ilmi. Bab tersebut beliau namakan "Babul Ilmi Qoblal Qouli Wal Amali" artinya Bab ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. Kemudian beliau membawakan firman Allah azza wa jalla sebagai pembuka bab ini:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (محمد: 19)
"Ketahuilah bahwasanya tidak ada ilah(yang patut disembah) melainkan Allah.(QS. Muhammad: 19)
Apa yang dimaksud Imam Bukhari dari judul bab tersebut? Ibnu Munir mengatakan sebagaimana dinukilkan oleh Syaikhul Islam Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari penjelasan Shahih Bukhari:
"Beliau—yakni Bukhari—menginginkan bahwasanya ilmu merupakan syarat sahnya perkataan dan perbuatan[1].
Maka setelah beliau membawakan ayat tersebut, beliau—rahimahullah—berkata: "maka Allah memulainya dengan ilmu". Yaitu Allah subhanahu wa ta'ala memerintahkan kepada umat muslim—meskipun seruan tersebut ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa salam—agar mereka mengetahui bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, lalu kemudian Allah ta'ala memerintahkan untuk beramal(istighfar). Dari ini semua, maka seorang muslim haruslah melandasi amal perbuatan serta perkataan mereka dengan ilmu terlebih dahulu[2] sebelum mereka beramal. Kaidah inilah yang berlaku dalam agama ini.
Kemudian, sudah menjadi kesepakatan bahwa amal perbuatan yang paling utama dalam agama ini adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta'ala. Maka berdasarkan ayat dan kaidah di atas wajiblah bagi kita untuk memiliki ilmu dalam mentauhidkan Allah subhanahu wa ta'ala. Oleh karena itu mentauhidkan Allah tidak terlepas dari mentauhidkan-Nya secara ilmu(ma'rifatullah) dan mentauhidkan-Nya secara amal(ibadah). Maka dapat kita katakan bahwa tauhid ada dua jenis yaitu:
1. Tauhid Ilmi
2. Tauhid Amali
Tauhid Ilmi
Mengenal dan mengetahui hakekat sesuatu, tidak lepas dari tiga cara,yaitu:
Cara pertama: dengan melihatnya atau dengan panca indera yang lain secara langsung kepada objek yang ingin diketahui. Contoh: ketika kita ingin mengetahui apa sih itu gunung? Maka kita pergi untuk melihatnya langsung, dengan demikian kita dapat mengetahui apa itu gunung. Atau bagaimana suara kicau burung Prenjak misalnya, kita dengarkan langsung bagaimana suara kicaunya.
Cara kedua: dengan melihat kepada objek yang serupa dengan objek yang ingin kita ketahui. Contohnya: kita tidak mendapati di tanah air kita pohon kurma. Meskipun ada, hal itu sangat jarang sekali kita dapati. Maka mereka yang sudah melihat langsung pohon kurma akan mengatakan: dia mirip seperti pohon kelapa. Dengan demikian ada sedikit pencitraan dalam memori kita tentang pohon kurma.
Cara ketiga: mengetahuinya melalui kabar atau pencitraan objek yang ingin kita ketahui. Dapat dengan menyebutkan sifat-sifatnya atau karakteristiknya. Contoh: kita belum pernah melihat Imam Bukhari rahimahullah, bagaimana kita mengatahui kalau beliau itu pernah ada. Kita mengetahuinya dari kabar yang diriwayatkan para ulama dari zaman beliau hingga sekarang.
Nah dari ketiga cara di atas untuk mengenal Rabb kita—Dzat Yang Maha Agung—kita tidak mungkin mengetahuinya dengan cara yang pertama karena kita tidak dapat melihat Allah. Firman Allah ta'ala kepada Nabi Musa 'alaihi salam:
لَنْ تَرَانِي
"Kamu sekali-kali tidak akan dapat melihatku"
Allah mengisahkannya dalam Al-Qur'an surah Al-A'raf ayat: 143. Yaitu ketika Nabi Musa 'alaihis salam memohon untuk dapat melihat Allah. Kemudian cara kedua, kita juga tidak dapat menempuhnya untuk mengetahui dan mengenal Allah, karena tidak ada suatu apapun yang serupa dengan Allah. Firman Allah ta'ala:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير(الشورى:11)
Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan-Nya. Dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat(QS.Asy-Syura:11)
Maka kita tidak memiliki cara lain untuk mengetahui keterangan tentang Allah kecuali dengan cara ketiga yaitu dengan apa yang dikabarkan Allah subhanahu wa ta'ala dalam kitab-Nya dan apa yang dikabarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam dalam sunnahnya. Mengapa demikian? Karena tidak ada yang mengetahui Allah melebihi Allah sendiri dan tidak ada diantara makhluk Allah yang lebih mengetahui Allah daripada Rasulullah shallallahu 'aalaihi wa salam.
Jika kita teliti dengan seksama ayat-ayat dan hadits yang menyebutkan tentang Allah selalu menyinggung tiga hal yaitu; perbuatan-Nya, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya. Berkenaan dengan hal-hal yang dilakukan oleh Allah, wajib bagi kita untuk meyakini bahwa perbuatan tersebut adalah hak mutlak milik Allah, hanya Allahlah yang dapat melakukannya. Seperti menciptakan, mengatur alam semesta, menghidupkan, mematikan makhluknya, memberi rizki dan lain sebagainya. Konsep inilah yang disebut tauhid rububiyyah, yaitu mentauhidkan Allah di dalam hal yang berkenaan dengan kekuasaan dan perbuatan-Nya. Kemudian berkenaan dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya, wajib bagi kita untuk menetapkan dan mengimani bahwa nama-nama dan sifat-sifat tersebut ada pada Dzat Allah sebagaimana yang Allah tetapkan dalam Al-Qur'an dan sebagaimana yang ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam dalam sunnahnya dengan tidak mengubah maknanya(tahrif), tidak mengingkarinya(ta'thil), tidak menyerupakannya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhluk(tasybih), dan tidak menafsirkannya kepada makna yang batil(ta'wil). Konsep inilah yang disebut tauhid asma' wa sifat. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa tauhid ilmi ini terbagi menjadi dua yaitu:
1. Tauhid Rububiyyah
2. Tauhid Asma' wa Sifat.
Sebagian ulama tidak membagi tauhid ilmi menjadi dua akan tetapi tetap menjadikannya di dalam satu pengertian karena pada dasarnya tauhid rububiyah dan asma' wa sifat bertujuan untuk mengenal dan menunjukkan keesaan Allah ta'ala. Sehingga mereka menamakan tauhid ilmi ini dengan tauhid ma'rifah.
Tauhid Amali
Mengenal saja tidak cukup, mengetahui dan menghafal nama-nama-Nya saja tidak cukup. Seorang ibu yang mencintai anaknya akan melakukan sesuatu pada anaknya sebagai wujud rasa cintanya, ibu tersebut akan merawatnya, mendidiknya, menyusui, dan lain sebagainya. Hal ini ia lakukan karena dia tahu bahwa dia mencintai anaknya. Apakah cukup bagi seorang ibu hanya mengucapkan aku cinta kepada anakku, namun dia tidak melakukan apa-apa sebagai wujud rasa cintanya?. Jika ini terjadi antara makhluk yang satu dengan makhluk yang lain. Lantas bagaimanakah kewajiban makhluk atas Khaliknya. Ya, ketika kita sudah mengetahui, meyakini keesaan Allah dalam hal rububiyah-Nya serta asma' wa sifat-Nya. Kewajiban kita adalah menyembah-Nya dan tidak menyembah selain-Nya. Mengikhlaskan seluruh amal ibadah kita hanya kepada-Nya, dan tidak mempersembahkan kepada selain-Nya. Konsep inilah yang disebut tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah, atau tauhid amali. Mentauhidkan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, tidak menyembah kepada selain-Nya. Tauhid ini adalah kosekwensi dari tauhid rububiyah dan asma' wa sifat, wujud relisasi dalam amal perbuatan setelah mengetahui dan meyakini keesaan Allah. Dengan demikian sempurnalah seseorang untuk sebagai seorang Islam. Mengapa demikian?
Sebagai contoh: umat Nasrani meyakini Allah sebagai Tuhan mereka, pencipta alam semesta—mentauhidkan Allah dalam hal rububiyah-Nya—,namun mereka tidak menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan—tidak mentauhidkan Allah dalam hal uluhiyah-Nya—. Mereka menyembah bersama Allah Isa dan Ruh Qudus. Apakah mereka bisa atau berhak dikatakan Muslim. Bukti yang jelas adalah apa yang dikabarkan Allah di dalam Al-Qur'an tentang kaum musyrikin:
وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ (الزمر: 38)
"Apabila engkau(wahai Muhammad) bertanya kepada mereka(kaum musyrikin) siapa yang menciptakan langit dan bumi. Mereka akan mengatakan: Allah. Katakan kepada mereka(hai Muhammad)! Apakah kamu tidak memperhatikan kepada apa yang kamu sembah selain daripada Allah? Jika Allah menginginkan untuk menimpakan suatu musibah, apakah sesembahan kalian itu dapat mencegahnya?. Atau apakah jika Allah menginginkan suatu rahmat, apakah sesembahan kalian itu dapat mencegahnya? Katakanlah Hasbiyallah, hanya kepada Allah orang-orang yang bertawakal itu berserah diri.( Az-Zumar: 38)
Imam Ibnu Katsir mengatakan tentang tafsir ayat ini: bahwa mereka orang-orang musyrik mengakui Allah sebagai Tuhan Yang menciptakan namun bersamaan dengan pengakuan mereka mereka menyambah kepada selain-Nya[3]. Ayat ini cukup untuk membuktikan bahwa tauhid rububiyah saja tidak cukup, mengetahui dan mengakui saja tidak cukup harus ada wujud realisasinya dalam bentuk amal perbuatan(tauhid uluhiyyah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar