Senin, 23 Mei 2011

pemahaman yang otentik


Pemahaman yang otentik
Yang satu pake Qur’an yang yang lain juga pake Qur’an, sama –sama Qur’an tapi isi kepalanya kok beda? Islam yang mana sih yang benar? Kira-kira beginilah pertanyaan umat muslim saat ini khususnya di tanah air. Perlu diketahui bahwa mereka yang berdalih dengan Qur’an ataupun sunnah belum tentu berada di atas kebenaran. Mengapa? Jika kita perhatikan tidak ada kelompok sesat dalam Islam yang tidak berdalih dengan Al-Qur’an. Khawarij, rofidhoh, murji’ah, mu’tazilah dan lain-lain. Masing-masing dari mereka memiliki sandaran sendiri-sendiri dalam Al-Qur’an maupun hadits. Apanya yang salah? Apakah Qur’an yang salah? Ataukah hadisnya yang salah? Al-Qur’an sudah tidak ada lagi keraguan di dalamnya bahwa ia adalah kitab yang seratus persen benar. Adapun hadis bisa jadi ada pihak-pihak yang berusaha memalsukan hadis. Namun jika seseorang menyandarkan pendapatnya di atas Al-qur’an dan hadis yang shohih apakah dia sudah benar?
            Dalil yang sudah benar belum tentu cara beristidlalnya(penarikan kesimpulannya) benar. Tulisan ringkas ini berisikan solusi dari Nabi Muhammad tentang bagaimana memahami agama ini dengan benar.
            Dalam catatan sejarah pembunuh Sayyidina Ali bin Abi Tholib yaitu Abdurrahman bin Amr Al-Kindi yang dikenal dengan Ibnu Muljam membacakan sebuah ayat ketika membunuh khalifah Ali. Ketika menebas ubun-ubun sang khalifah ia mengatakan: tidak ada hukum kecuali milik hanya milik Allah, bukan milikmu wahai Ali, bukan pula milik sahabat-sahabatmu, kemudian ia membaca  ayat:
ومن الناس من يشري نفسه ابتغاء مرضاة الله و الله رءوف بالعباد (البقرة:207)
Dan di antara manusia ada yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya
Dengan ayat ini Ibnu Muljam berdalih untuk membenarkan perbuatannya membunuh Khalifah Ali. Ia menganggap pembunuhan itu adalah suatu pengorbanan yang dilakukan semata-mata untuk mengharap keridhoan Allah azza wa jalla. Namun apakah tindakan itu benar? Apakah pembunuhan terhadap sahabat Nabi ini akan mendapat ridho Allah? Sungguh cacat akal seseorang apabila mengatakan tindakan itu benar.
            Umat Islam memerlukan sebuah pemahaman yang otentik yaitu pemahaman yang murni tentang agama ini. Ilustrasinya adalah seperti mata air. Di manakah kita bisa meminum air yang paling jernih? Apakah air yang jernih kita dapati dengan jarak yang berkilo-kilo dari  sumbernya? Tentunya jika ingin mengambil air yang paling jernih, kita harus mengambilnya dari  sumber yang terdekat dari sumbernya. Sekarang, siapakah orang-orang yang paling dekat dengan sumber agama ini( Al-Qur’an dan Sunnah)? Mungkinkah orang yang lahir berabad-abad setelah Rosulullah wafat lebih mengetahui dan lebih paham tentang ayat Al-Qur’an daripada mereka yang dididik langsung oleh Rosulullah? Tidak pernah kita dapatkan air yang di hilir lebih jernih dari air yang terdekat dengan sumbernya. Maka di sini pemahaman yang paling otentik dan murni adalah pemahaman para sahabat Nabi. Para sahabat Nabi adalah orang-orang yang menyaksikan langsung proses turunnya wahyu. Merekalah yang mengetahui sebab turunnya suatu ayat dan berkaitan dengan peristiwa apa ayat itu turun. Merekalah yang paling mengetahui maksud suatu ayat maupun hadis, karena Rosulullah lah yang mengajarkan secara langsung agama ini kepada mereka. Ketika mereka salah dalam suatu pemahaman, Rosullullah langsung menegur dan meluruskan kesalahan mereka. Inilah pemahaman yang wajib kita ikuti, pemahaman yang murni yang direkomendasikan oleh Allah dalam firmanNya:
و السابقون الأولون من المهاجرين و الأنصار والذين اتبعوهم بإحسان رضي الله عنهم و رضوا عنه و أعد لهم جنات تجري تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا ذلك الفوز العظيم (التوبة: 100)
Orang-orang yang terdahulu yang pertama-tama( masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya, mereka kekal di dalamnya dan itulah kemengangan yang besar.
            Apa kaitan ayat di atas dengan rekomendasi Allah untuk mengikuti pemahaman para sahabat?
Kaitannya adalah pada ayat tersebut Allah meridhoi tiga golongan dan menyiapkan surgaNya bagi mereka, yang mana mereka kekal di dalamnya. Ketiga golongan tersebut adalah:
1.      Kaum Muhajirin
2.      Kaum Anshor
3.      Pengikut mereka dengan ihsan
Pertanyaannya , apakah kita termasuk golongan muhajirin? Apakah kita termasuk golongan anshor? Jawabannya TIDAK, BUKAN. Karena kedua golongan itu adalah generasi sahabat yang hidup di zaman Nabi. Kita tidak punya kesempatan untuk meraih kemenangan yang dijanjikan Allah dalam ayat tersebut kecuali kesempatan yang ketiga yaitu mengikuti jejak mereka. Mengikuti jejak mereka dalam hal apa? Berpakaian? Mode? Teknologi? Peradaban? Tentunya tidak dan bukan itu yang dimaksud. Mengikuti jejak mereka yang dimaksud tidak lain  adalah dalam hal pemahaman agama, aqidah(keyakinan) mereka, keimanan mereka, praktek dan cara beragama mereka. Ini yang dimaksud. Dan mengikuti pemahaman para sahabat yang murni ini hukumnya wajib. Jika kita tidak mengikuti pemahaman mereka kemudian mencari jalan lain dalam beragama akibatnya adalah seperti yang Allah janjikan dalam ayat berikut :
و من يشاقق الرسول من بعد ما تبين له الهدى و يتبع غير سبيل المؤمنين نوله ما تولي ونصله جهنم و ساءت مصيرا (النساء:115)
Dan barang siapa yang menentang Rosul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin Kami biarkan ia leluasa dengan kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.
            Apa kaitan ayat ini dengan kewajiban mengikuti pemahaman para sahabat? Toh ayat ini jelas-jelas tidak menyebutkan sahabat.
Perhatikan kembali ayat ini! Dalam ayat ini Allah menyebutkan dua perbuatan tercela dan dua akibat bagi mereka yang melakukannya. Adapun dua perbuatan tercela itu adalah:
1.      Menentang Rosulullah setelah kebenaran jelas-jelas ada di depan matanya.
2.      Mencari-cari jalan dan mengikuti jalan selain jalan yang ditempuh orang-orang mukmin.
Dan dua akibat dari perbuatan tersebut adalah :
1.      Allah biarkan si pelaku berada dalam kesesatan yang diikutinya itu.
2.      Allah menyiapkan neraka jahannam sebagai tempat kembalinya nanti.
Yang ingin digaris bawahi adalah poin nomor dua yaitu “jalan yang ditempuh orang mukmin” siapakah orang mukmin pada ayat di atas? Ketika ayat ini turun adakah orang mukmin di muka bumi ini selain para sahabat? Siapakah yang pertama kali beriman kepada Allah dan RosulNya/ siapakah yang pertama kali beriman ketika Rosulullah menyampaikan risalah kenabiannya? Jelas-jelas jawabannya adalah para sahabat. Siapa lagi kalau bukan mereka. Dan ayat ini jelas-jelas memerintahkan kita untuk mengikuti jejak mereka dalam beragama.
            Selain generasi sahabat, Rosulullah juga telah merekomendasikan dua generasi lagi setelahnya untuk diikuti pemahamannya yaitu generasi tabi’in dan generasi atba’ut tabi’in. Inilah tiga generasi awal keislaman yang Rosulullah rekomendasikan agar kita mengikuti pemahaman mereka dalam beragama. Beliau bersabda:
خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم ثم يجيء قوم تسبق شهادة أحدهم يمينه ويمينه شهادته (متفق عليه)
Sebaik-baik umat manusia adalah( mereka yang hidup) di zamanku kemudian generasi setelahnya lalu generasi setelahnya kemudian akan datang setelahnya suatu kaum yang kesaksiannya mendahului sumpahnya serta sumpahnya mendahului kesaksiannya (muttafaq alaih)
            Dalam hadis di atas Rosulullah mengabarkan bahwa sebaik-baik umat adalah generasi beliau yaitu generasi para sahabat. Sebaik-baik umat dalam hal apa? Di atas sudah dijelaskan bahwa sebaik-baik umat dalam hal keimanan, pemahaman, agama, amal ibadah, dan hal-hal yang bersifat ukhrowi. Bukan dalam hal-hal yang sifatnya duniawi. Je;as kita ketahui teknologi pada zaman itu tidak seperti pada zaman ini. Generasi selanjutnya adalah generasi tabi’in lalu atba’ut tabi’in. kemudian Rosulullah mengabarkan bahwa setelah tiga generasi tersebut akan ada suatu kaum yang tidak dapat dipegang amanahnya. Rosulullah mensifati mereka dengan kesaksian yang didahului sumpah atau sebaliknya. Sifat ini menunjukkan ketidak konsistenannya kaum tersebut dalam memegang amanah. Di saat tertentu mereka bersumpah terlebih dahulu dan di saat yang lain mereka bersaksi dulu baru bersumpah. Seakan-akan ini adalah isyarat bahwa setelah tiga periode tersebut kebohongan terhadap agama ini semakin merajalela.
            Setalah mengetahui petunjuk Nabi dalam memahami agama ini, maka tunggu apa lagi? Kesempatan kita untuk mentaati perintah Rosulullah hanya sekali kalau bukan sekarang kapan lagi. Apa nunggu disiksa di neraka dulu???????? Itu sudah terlambat. Pemahaman mereka sudah terbukti benar. Di antara buktinya : rekomendasi Allah dan RosulNya dan kemenangan-kemenangan yang diraih pada masa awal keislaman. 
           


              

Tidak ada komentar:

Posting Komentar